<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232</id><updated>2011-07-28T15:16:15.412-07:00</updated><category term='Ikhlas'/><category term='hadits shahih'/><category term='Hukum Islam'/><category term='tips'/><category term='artikel'/><category term='tokoh'/><category term='Karya Besar'/><category term='Ulama'/><category term='ibadah'/><category term='profil'/><category term='Dosa'/><category term='Allah'/><category term='Aa Gym'/><category term='shalat khusyuk'/><category term='biografi'/><title type='text'>Surga Dunia Akhirat Bagi Orang Orang yang Berhati Tenang</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-1909356898702432571</id><published>2009-08-09T04:54:00.001-07:00</published><updated>2009-08-09T08:12:54.739-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karya Besar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ulama'/><title type='text'>Haji Abdul Malik Karim Amrullah ( HAMKA )</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Haji Abdul Malik Karim Amrullah&lt;/strong&gt; (atau lebih dikenal dengan julukan &lt;strong&gt;HAMKA&lt;/strong&gt;, yakni singkatan namanya), lahir tahun 1908, di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981, adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai &lt;strong&gt;Haji Rasul&lt;/strong&gt;, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Biografi&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HAMKA (1908-1981), &lt;/strong&gt;adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Ia lahir pada &lt;strong&gt;17 Februari 1908&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia&lt;/strong&gt;. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jawatan pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka telah pulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan sahaja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Daftar Karya Buya Hamka&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab. &lt;br /&gt;Si Sabariah. (1928) &lt;br /&gt;Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929. &lt;br /&gt;Adat Minangkabau dan agama Islam (1929). &lt;br /&gt;Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929). &lt;br /&gt;Kepentingan melakukan tabligh (1929). &lt;br /&gt;Hikmat Isra' dan Mikraj. &lt;br /&gt;Arkanul Islam (1932) di Makassar. &lt;br /&gt;Laila Majnun (1932) Balai Pustaka. &lt;br /&gt;Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar. &lt;br /&gt;Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar. &lt;br /&gt;Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934. &lt;br /&gt;Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka. &lt;br /&gt;Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka. &lt;br /&gt;Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka. &lt;br /&gt;Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi. &lt;br /&gt;Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940. &lt;br /&gt;Tuan Direktur 1939. &lt;br /&gt;Dijemput mamaknya,1939. &lt;br /&gt;Keadilan Ilahy 1939. &lt;br /&gt;Tashawwuf Modern 1939. &lt;br /&gt;Falsafah Hidup 1939. &lt;br /&gt;Lembaga Hidup 1940. &lt;br /&gt;Lembaga Budi 1940. &lt;br /&gt;Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepang 1943). &lt;br /&gt;Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946. &lt;br /&gt;Negara Islam (1946). &lt;br /&gt;Islam dan Demokrasi,1946. &lt;br /&gt;Revolusi Pikiran,1946. &lt;br /&gt;Revolusi Agama,1946. &lt;br /&gt;Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946. &lt;br /&gt;Dibantingkan ombak masyarakat,1946. &lt;br /&gt;Didalam Lembah cita-cita,1946. &lt;br /&gt;Sesudah naskah Renville,1947. &lt;br /&gt;Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947. &lt;br /&gt;Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar. &lt;br /&gt;Ayahku,1950 di Jakarta. &lt;br /&gt;Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950. &lt;br /&gt;Mengembara Dilembah Nyl. 1950. &lt;br /&gt;Ditepi Sungai Dajlah. 1950. &lt;br /&gt;Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950. &lt;br /&gt;Kenangan-kenangan hidup 2. &lt;br /&gt;Kenangan-kenangan hidup 3. &lt;br /&gt;Kenangan-kenangan hidup 4. &lt;br /&gt;Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950. &lt;br /&gt;Sejarah Ummat Islam Jilid 2. &lt;br /&gt;Sejarah Ummat Islam Jilid 3. &lt;br /&gt;Sejarah Ummat Islam Jilid 4. &lt;br /&gt;Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950. &lt;br /&gt;Pribadi,1950. &lt;br /&gt;Agama dan perempuan,1939. &lt;br /&gt;Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang. &lt;br /&gt;1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950). &lt;br /&gt;Pelajaran Agama Islam,1956. &lt;br /&gt;Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952. &lt;br /&gt;Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1. &lt;br /&gt;Empat bulan di Amerika Jilid 2. &lt;br /&gt;Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa. &lt;br /&gt;Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM. &lt;br /&gt;Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta. &lt;br /&gt;Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta. &lt;br /&gt;Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang. &lt;br /&gt;Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970. &lt;br /&gt;Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang. &lt;br /&gt;Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang. &lt;br /&gt;Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968. &lt;br /&gt;Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah). &lt;br /&gt;Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah). &lt;br /&gt;Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970. &lt;br /&gt;Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat. &lt;br /&gt;Himpunan Khutbah-khutbah. &lt;br /&gt;Urat Tunggang Pancasila. &lt;br /&gt;Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974. &lt;br /&gt;Sejarah Islam di Sumatera. &lt;br /&gt;Bohong di Dunia. &lt;br /&gt;Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang). &lt;br /&gt;Pandangan Hidup Muslim,1960. &lt;br /&gt;Kedudukan perempuan dalam Islam,1973. &lt;br /&gt;[Tafsir Al-Azhar][1] Juzu' 1-30, ditulis pada masa beliau dipenjara oleh Sukarno.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-1909356898702432571?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/1909356898702432571/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/08/haji-abdul-malik-karim-amrullah-hamka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1909356898702432571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1909356898702432571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/08/haji-abdul-malik-karim-amrullah-hamka.html' title='Haji Abdul Malik Karim Amrullah ( HAMKA )'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-1160283549378303616</id><published>2009-07-21T02:46:00.002-07:00</published><updated>2009-07-21T02:53:11.828-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Profil Tokoh Islam | Juwairiyah Binti al-Harits r.a</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWP5A8WXAI/AAAAAAAAAVM/WQJ5hA_2934/s1600-h/2870138685_70d0307e29_m.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWP5A8WXAI/AAAAAAAAAVM/WQJ5hA_2934/s320/2870138685_70d0307e29_m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360849141122882562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Telah lama kita ketahui bahwa setiap istri Nabi SAW itu memiliki suatu kelebihan. Demikian juga halnya dengan Juwairiyah yang telah membawa berkah besar bagi kaumnya, Banil-Musthaliq. Bagaimana tidak, setelah dia memeluk Islam, Banil-Musthaliq mengikrarkan diri menjadi pengikut Nabi SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwairiyah adalah seorang putri pemimpin Banil Musthaliq yang bernama al-Harits bin Abi Dhiraar yang sangat memusuhi Islam. Tentunya dia memiliki sifat dan kehormatan sebagai keluarga seorang pemimpin. Dia adalah gadis cantik yang paling luas ilmunya dan paling baik budi pekertinya di antara kaumnya. Rasulullah SAW memerangi mereka sehingga banyak kalangan mereka yang terbunuh dan wanita-wanitanya menjadi tawanan perang. Di antara tawanan tersebut terdapat Juwairiyah yang kemudian memeluk Islam, dan keislamannya itu merupakan awal kebaikan bagi kaumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Juwairiyah, Aisyah mengemukan cerita sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Saad dalam Thabaqatnya, "Rasulullah SAW menawan wanita-wanita Bani Musthaliq, kemudian bliau menyisihkan seperlima dari mereka dan membagikannya kepada kaum muslimin. Bagi penunggang kuda mendapat dua bagian, dan lelaki yang lain mendapat satu bagian. Juwairiyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas al-Anshari. Sebelumnya Juwairiyah menikah dengan anak pamannya, yaitu Musafi bin Shafwan bin Malik bin Juzaimah, yang tewas dalam pertempuran melawan kaum muslimin. Ketika Rasulullah SAW tengah berkumpul denganku, Juwairiyah datang menanyakan tentang perjanjian pembebasannya. Aku sangat membencinya ketika dia menemui beliau. Kemudian dia berkata, "Ya Rasulullah SAW, aku Juwairiyah binti al-Harits, pemimpin kaumnya. Sekarang aku kini tengah berada dalam kekuasaan Tsabit bin Qais. Dia membebaniku dengan sembilan keping emas, padahal aku sangat menginginkan kebebasanku.' Beliau bertanya,'Apakah engkau menginginkan sesuatu yang lebih dari itu ?' Dia balik bertanya,'Apakah gerangan itu ?' Beliau menjawab,'Aku penuhi permintaanmu dalam membayar sembilan keping emas dan aku akan menikahimu.' Dia menjawab,'Baiklah,ya Rasulullah SAW !' Beliau bersabda,'Aku akan melaksanakannya.' lalu tersebarlah kabar itu, dan para sahabat Rasulullah SAW berkata, 'Ipar-ipar Rasulullah SAW tak layak menjadi budak-budak.' Mereka membebaskan tawanan Banil Musthaliq yang jumlahnya hingga seratus keluarga karena perkawinan Juwairiyah dengan Rasulullah SAW. Aku tidak pernah menemukan seorang wanita yang lebih banyak memiliki berkah daripada Juwairiyah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Aisyah sangat memperhatikan kecantikan Juwairiyah, dan itulah di antaranya yang menyebabkan Rasulullah SAW menawarkan untuk menikahinya. Rasulullah SAW meminang Juwairiyah dengan mas kawin 400 dirham. Aisyah sangat cemburu dengan keadaan seperti itu. Padahal Rasulullah SAW berbuat baik kepada Juwairiyah bukan semata karena kecantikan wajahnya, melainkan karena rasa belas kasih beliau kepadanya. Ketika Juwairiyah menikah dengan Rasulullah SAW, beliau mengubah namanya, yang asalnya Burrah menjadi Juwairiyah, sebagaimana disebutkan dalam Thabaqatnya Ibnu Saad, "Nama Juwairiyah binti al-Harits merupakan perubahan dari Burrah. Rasulullah SAW menggantinya menjadi Juwairiyah,…karena khawatir disebut bahwa beliau keluar dari rumah burrah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, Juwairiyah mengasingkan diri serta memperbanyak ibadah dan bersedekah di jalan Allah SWT dengan harta yang diterimanya dari Baitul-Mal. Ketika terjadi fitnah besar berkaitan dengan Aisyah, dia banyak berdiam diri, tidak berpihak kemanapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwairiyah wafat pada masa kekhalifahan Mu`awiyah bin Abu Sufyan, pada usianya yang keenam puluh. Dia dikuburkan di Baqi`, bersebelahan dengan kuburan istri-istri Rasulullah SAW yang lain. Semoga Allah SWT rela kepadanya dan kepada semua istri Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari: Amru Yusuf/ Istri Rasulullah, contoh dan teladan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : &lt;br /&gt;Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;image : &lt;a href="http://www.flickr.com"&gt;www.flickr.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-1160283549378303616?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/1160283549378303616/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/profil-tokoh-islam-juwairiyah-binti-al.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1160283549378303616'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1160283549378303616'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/profil-tokoh-islam-juwairiyah-binti-al.html' title='Profil Tokoh Islam | Juwairiyah Binti al-Harits r.a'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWP5A8WXAI/AAAAAAAAAVM/WQJ5hA_2934/s72-c/2870138685_70d0307e29_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-7740554176881087734</id><published>2009-07-21T02:33:00.001-07:00</published><updated>2009-07-21T02:43:41.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat khusyuk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><title type='text'>Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWNQxBi8RI/AAAAAAAAAVE/VIhZjCAoywY/s1600-h/564048525_56e074f284_m.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWNQxBi8RI/AAAAAAAAAVE/VIhZjCAoywY/s320/564048525_56e074f284_m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360846250631688466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWNQxBi8RI/AAAAAAAAAVE/VIhZjCAoywY/s1600-h/564048525_56e074f284_m.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWNQxBi8RI/AAAAAAAAAVE/VIhZjCAoywY/s320/564048525_56e074f284_m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360846250631688466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya amal manusia yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya” Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya. Bagaimana mungkin seorang mukmin mengharapkan kebaikan di akhirat, sedang pada hari kiamat bukunya kosong dari shalat Subuh tepat waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Subuh memang shalat wajib yang paling sedikit jumlah rekaatnya; hanya dua rekaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit (sampai matahari terbit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hukuman khusus bagi yang meninggalkan shalat Subuh. Rasulullah saw telah menyebutkan hukuman berat bagi yang tidur dan meninggalkan shalat wajib, rata-rata penyebab utama seorang muslim meninggalkan shalat Subuh adalah tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setan melilit leher seorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, ‘Nikmatilah malam yang panjang ini’. Apabila ia bangun lalu mengingat Allah, maka terlepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan yang kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan yang ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak, ia akan terbawa lamban dan malas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan bagi wanita - walau shalat di masjid diperbolehkan - shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya, yaitu yang mengerjakan shalat Subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid. Ujian yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid. “Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu menolong (agama) Allah, maka ia pasti akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh Allah akan menolong orang yang menolong agamanya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa” (QS Al-Hajj:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIPS MENJAGA SHALAT SUBUH :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlaskan niat karena Allah, dan berikanlah hak-hak-Nya &lt;br /&gt;Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari &lt;br /&gt;Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali &lt;br /&gt;Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh &lt;br /&gt;Carilah kawan yang baik (shalih) &lt;br /&gt;Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa) &lt;br /&gt;Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari &lt;br /&gt;Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding &lt;br /&gt;Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu) &lt;br /&gt;Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga &lt;br /&gt;Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah dan terus berdiam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://mudji.net"&gt;mudji.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Disarikan dari :&lt;br /&gt;Buku “MISTERI SHALAT SUBUH”&lt;br /&gt;Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh Bagi Para Pribadi dan Masyarakat&lt;br /&gt;Pengarang : DR. Raghib As-Sirjani&lt;br /&gt;Penerbit : Aqwam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-7740554176881087734?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/7740554176881087734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/menyingkap-1001-hikmah-shalat-subuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/7740554176881087734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/7740554176881087734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/menyingkap-1001-hikmah-shalat-subuh.html' title='Menyingkap 1001 Hikmah Shalat Subuh'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmWNQxBi8RI/AAAAAAAAAVE/VIhZjCAoywY/s72-c/564048525_56e074f284_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-3140007954911820454</id><published>2009-07-21T00:01:00.000-07:00</published><updated>2009-07-21T00:12:05.920-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aa Gym'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ikhlas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Ciri-ciri Orang yang Ikhlas</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmVp7lfLEWI/AAAAAAAAAU8/YcuwdHTaHds/s1600-h/2275109648_58fe5742bb_m.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmVp7lfLEWI/AAAAAAAAAU8/YcuwdHTaHds/s320/2275109648_58fe5742bb_m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360807403850502498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh Aa Gym&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ahmad Ibnu Athaillah berkata dalam kitab Al Hikam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa) nya adalah tempat terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab tentang ikhlas adalah bab yang mutlak dan paling penting untuk dipahami dan diamalkan, karena amal yang akan diterima Allah SWT hanyalah amal yang disertai dengan niat ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah mereka diperintah kecuali agar berbuat ikhlas kepada Allah dalam menjalankan agama”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, sehebat apapun suatu amal bila tidak ikhlas, tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedang amal yang sederhana saja akan menjadi luar biasa dihadapan Allah SWT bila disertai dengan ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah heran seandainya shalat yang kita kerjakan belum terasa khusyu, atau hati selalu resah dan gelisah dan hidup tidak merasa nyaman dan bahagia, karena kunci dari itu semua belum kita dapatkan, yaitu sebuah keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Ciri-ciri dari orang yang memiliki keikhlasan diantaranya :&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Hidupnya jarang sekali merasa kecewa,&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memuji/menilainya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang selalu berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.Tidak tergantung / berharap pada makhluk&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sayyidina ’Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3.Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Banyak Amal Kebaikan Yang Rahasia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ketika kita mengaji dilingkungan orang banyak maka kita akan mengaji dengan enaknya, lama dan penuh khidmat, ketika kita shalat berjamaah apalagi sebagai imam kita akan berusaha khusyu dan lama, tapi apakah hal tersebut akan kita lakukan dengan kadar yang sama disaat kita beramal sendirian ? apabila amal kita tetap sama bahkan cenderung lebih baik, lebih lama, lebih enak dan lebih khusyuk maka itu bisa diharapkan sebagai amalan yang ikhlas. Namun bila yang terjadi sebaliknya, ada kemungkinan amal kita belumlah ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Tidak membedakan antara bendera, golongan, ras, atau organisasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Fitrah manusia adalah ingin mendapatkan pengakuan dan penilaian dari keberadaannya dan segala aktivitasnya, namun pengakuan dan penilaian makhluk, baik perorangan, organisasi atau instansi tempat kerja itu relatif dan akan senantiasa berubah, banyak orang yang pernah dianggap sebagai pahlawan namun seiring waktu berjalan adakalanya berubah menjadi sosok penjahat yang patut diwaspadai. Maka tiada penilaian dan pengakuan yang paling baik dan  yang harus senantiasa  kita usahakan adalah penilaian dan pengakuan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu besar pengaruh orang yang ikhlas itu, sehingga dengan kekuatan niat ikhlasnya mampu menembus ruang dan waktu. Seperti halnya apapun yang dilakukan, diucapkan, dan diisyaratkan Rasulullah, mampu mempengaruhi kita semua walau beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu namun kita senantiasa patuh dan taat terhadap apa yang beliau sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan orang yang ikhlas bisa membuat iblis (syaitan) tidak bisa banyak berbuat dalam usahanya untuk menggoda orang ikhlas tersebut. Ingatlah, apapun masalah kita kita janganlah hati kita sampai pada masalah itu, cukuplah hanya ikhtiar dan pikiran saja yang sampai pada masalah tersebut, tapi hati hanya tertambat pada Allah SWt yang Maha Mengetahui akan masalah yang kita hadapi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT membimbing kita pada jalan-Nya sehingga kita bisa menjadi hamba-Nya yang ikhlas. Amiin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-3140007954911820454?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/3140007954911820454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/ciri-ciri-orang-yang-ikhlas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/3140007954911820454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/3140007954911820454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/ciri-ciri-orang-yang-ikhlas.html' title='Ciri-ciri Orang yang Ikhlas'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/SmVp7lfLEWI/AAAAAAAAAU8/YcuwdHTaHds/s72-c/2275109648_58fe5742bb_m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-258285581378028129</id><published>2009-07-20T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T08:08:18.599-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='profil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='biografi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Biografi Tokoh Islam | Imam  Muslim</title><content type='html'>Nama lengkap beliau ialah Imam Abdul Husain bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Dia dilahirkan di Naisabur tahun 206 H. Sebagaimana dikatakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya “Ulama’ul Amsar. Imam Muslim adalah penulis kitab syahih dan kitab ilmu hadits. Dia adalah ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal sampai kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kehidupan dan Pengembaraannya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Imam Muslim penuh dengan kegiatan mulia. Beliau meran-tau ke berbagai negeri untuk mencari hadits. Dia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dia belajar hadits sejak masih kecil, yakni mulai tahun 218 H. Dalam perjalanannya, Muslim bertemu dan berguru pada ulama hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Khurasan, dia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray, dia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu Ansan. Di Irak, dia belajar kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Di Hijaz, berguru kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’ab. Di Mesir, belajar kepada ‘Amar bin Sawad dan Harmalah bin Yahya dan berguru kepada ulama hadits lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim berulangkali pergi ke Bagdad untuk belajar hadits, dan kunjungannya yang terakhir tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering berguru kepadanya. Sebab dia mengetahui kelebihan ilmu Imam Bukhari. Ketika terjadi ketegangan antara Bukhari dengan az–Zuhali, dia memihak Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga hubungannya dengan az-Zuhali menjadi putus. Dalam kitab syahihnya maupun kitab lainnya, Muslim tidak memasukkan hadits yang diterima dari az-Zuhali, meskipun dia adalah guru Muslim. Dan dia pun tidak memasukkan hadits yang diterima dari Bukhari, padahal dia juga sebagai gurunya. Bagi Muslim, lebih baik tidak memasukkan hadits yang diterimanya dari dua gurunya itu. Tetapi dia tetap mengakui mereka sebagai gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Wafatnya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengarungi kehidupan yang penuh berkah, Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan di makamkan di kampong Nasr Abad daerah Naisabur pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun. Selama hidupnya, Muslim menulis beberapa kitab yang sangat bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Para Gurunya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim mempunyai guru hadits sangat banyak sekali, diantaranya adalah: Usman bin Abi Syaibah, Abu Bakar bin Syaibah, Syaiban bin Farukh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harab, ‘Amar an-Naqid, Muhammad bin Musanna, Muhammad bin Yasar, Harun bin Sa’id al-Aili, Qutaibah bin sa’id dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Murid yang meriwayatkan Haditsnya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para ulama yang meriwayatkan hadits dari Muslim, bahkan di antaranya terdapat ulama besar yang sebaya dengan dia. Di antaranya, Abu Hatim ar-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, Abu Bakar bin Khuzaimah, Yahya bin Said, Abu Awanah al-Isfarayini, Abi isa at-Tirmidzi, Abu Amar Ahmad bin al-Mubarak al-Mustamli, Abul Abbas Muhammad bin Ishaq bin as-Sarraj, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al-Faqih az-Zahid. Nama terakhir ini adalah perawi utama bagi Syahih Muslim. Dan masih banyak lagi muridnya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian para Ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Imam Bukhari sebagai ahli hadits nomor satu, ahli tentang ilat–ilat (cacat) hadits dan seluk beluk hadits, dan daya kritiknya sangat tajam, maka Muslim adalah orang kedua setelah Bukhari, baik dalam ilmu, keistimewaan dan kedudukannya. Hal ini tidak mengherankan, karena Muslim adalah salah satu dari muridnya. Al-Khatib al-Bagdadi berkata: “Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, mengembangkan ilmunya dan mengikuti jalannya.” Pernyataan ini bukanlah menunjukkan bahwa Muslim hanya seorang pengikut saja. Sebab ia mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyusun kitab, serta memperkenalkan metode baru yang belum ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim mendapat pujian dari ulama hadis dan ulama lainnya. Al–Khatib al-Bagdadi meriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, katanya “Saya me-lihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Muslim bin al-Hajjaj dari pada guru- guru hadits lainnya. Ishak bin Mansur al-Kausaj berkata kepada Muslim: “Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah menetapkan engkau bagi kaum muslimin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishak bin Rahawaih pernah mengatakan: “Adakah orang lain seperti Muslim?”. Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Muslim adalah penghafal hadits. Saya menulis hadits dari dia di Ray.” Abu Quraisy berkata: “Di dunia ini, orang yang benar- benar ahli hadits hanya empat orang. Di antaranya adalah Muslim.” Mak-sudnya, ahli hadits terkemuka di masa Abu Quraisy. Sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kitab tulisan Imam Muslim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Imam muslim mempunyai kitab hasil tulisannya yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Jamius Syahih&lt;br /&gt;2. Al-Musnadul Kabir Alar Rijal&lt;br /&gt;3. Kitab al-Asma’ wal Kuna&lt;br /&gt;4. Kitab al-Ilal&lt;br /&gt;5. Kitab al-Aqran&lt;br /&gt;6. Kitab Sualatihi Ahmad bin Hanbal&lt;br /&gt;7. Kitab al-Intifa’ bi Uhubis Siba’&lt;br /&gt;8. Kitab al-Muhadramain&lt;br /&gt;9. Kitab Man Laisa Lahu illa Rawin Wahidin&lt;br /&gt;10. Kitab Auladus Sahabah&lt;br /&gt;11. Kitab Auhamul Muhadisin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kitabnya yang paling terkenal sampai kini ialah Al-Jamius Syahih atau Syahih Muslim.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kitab Sahih Muslim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al Jami’ as-Sahih, terkenal dengan Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Sahihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahwa ia pernah berkata: “Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : “Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya: “Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: “Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad&lt;br /&gt;ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : “Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim di dalam penulisan Sahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sumber: Kitab Hadis Sahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah*&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pesantrenbanyumas.wordpress.com"&gt;http://pesantrenbanyumas.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-258285581378028129?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/258285581378028129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/biografi-tokoh-islam-imam-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/258285581378028129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/258285581378028129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/biografi-tokoh-islam-imam-muslim.html' title='Biografi Tokoh Islam | Imam  Muslim'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-1395153082172725415</id><published>2009-07-20T07:55:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T08:02:41.476-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dosa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hukum Islam'/><title type='text'>KRITERIA DOSA BESAR MENURUT Al-QUR'AN DAN HADIS</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Burhan Djamaluddin&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil. Namun tidak didapati rincian dalam al-Qur'an dan Hadis, dua sumber agama Islam, tentang kesalahan apa saja yang dikategorikan dosa besar dan dosa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an, misalnya surat al-Nisa' ayat 37, dan surat al-Najm ayat 32, disebut kata kaba'ir dan kaba'ir al-ism. Menurut Muhammad Fuad Abd al-Baqi, hanya 3 ayat dalam al-Qur'an yang mengandung kata kaba'ir atau kaba'ir al-ism. Dalam ayat-ayat itu, yang disebut kaba'ir tidak jelas. Kata kaba'ir atau kaba'ir al-ism, yang biasanya diterjemahkan dengan dosa besar dan muncul dalam al-Qur'an sebanyak 3 kali itu, semuanya tidak menyebut kesalahan apa saja yang disebut dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis, yang fungsinya antara lain menjelaskan yang masih umum dalam al-Qur'an, tidak banyak membantu kita untuk dapat memahami kesalahan apa saja yang disebut dosa besar. Dalam Hadis, justeru yang terungkap hanya dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar (akbar al-kaba'ir), yaitu syirik, durhaka kepada kedua orang tua, saksi palsu, mundur dari medan perang melawan orang kafir, dan sihir. Jika ada dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan demikian, perincian dosa-dosa besar belum jelas adanya. Bahkan, ungkapan-ungkapan dalam al-Qur'an atau Hadis yang mengacu kepada arti dosa-dosa besar belum jelas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba mengungkap kriteria-keriteria dosa besar, baik melalui sumber pertama (al-Qur'an) maupun sumber kedua (Hadis) Rasulullah, dengan cara menelusuri istilah atau ungkapan yang digunakan dalam dua sumber ajaran Islam tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum dicoba diuraikan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada arti dosa besar dalam al-Qur'an dan Hadis, terlebih dahulu dikemukakan beberapa ungkapan yang biasa diterjemahkan dengan arti dosa dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah-Istilah Dosa Dalam Al-Qur'an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an, terdapat sejumlah istilah atau kata yang biasa diterjemahkan dengan dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut ,misalnya: al-itsm, al-zanb, al-khith'u, al -sayyi'at dan al-hub. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-itsm dengan berbagai bentuk kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fuad 'Abd al-Baqi, muncul sebanyak 44 kali dalam al-Qur'an. Menurut Lewis Ma'luf, kata al-itsm, berarti 'amila ma la yahillu (mengerjakan sesuatu yang tidak halal atau tidak dibolehkan agama). Makna kata al-itsm, seperti diungkap Lewis Ma'luf, umum sekali, yaitu mencakup semua amal yang dilarang agama. Padahal al-Qur'an, ketika menunjuk hal-hal yang dilarang agama, misalnya zina, mengungkapnya dengan kata fahisyat. Jadi, tidak selamanya hal-hal yang dilarang agama disebut al-itsm oleh al-Qur'an. Berbeda dengan Lewis Ma'luf, Al-Raghib al-Asfahani, salah seorang pakar bahasa al-Qur'an, mengemukakan bahwa kata al-itsm berarti sebutan bagi perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Dengan kata lain, al-itsm adalah sebutan bagi tindakan yang menghambat terwujudnya kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Lewis Ma'luf dan al-Asfahani, al-Maraghi (penulis tafsir al-Maraghi), mengatakan bahwa al-itsm sama dengan al-zanb. Sesuatu perkataan atau tindakan baru dapat disebut al-itsm, demikian al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang menimpa jasmani, jiwa, akal, dan harta benda (materi). Ibn Mandhur, penulis kamus Lisan al-Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Alasan yang dikemukakan Ibn Mandhur ialah bait syair Arab yang berbunyi "syaribtu al-itsm hatta dlalla 'aqliy, kazalika al-itsm tazhabu bi al-'uqul" (saya meminum al-ism, "al-khamar", maka ingatanku hilang. Memang khamar dapat menghilangkan ingatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an, terdapat dua tindakan yang dapat dikategorikan al-itsm, yakni meminum khamar dan bermain judi, seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 219. Memang, mengartikan al-itsm dengan sesuatu yang menghambat perbuatan baik, mendatangkan bahaya, dan bahkan secara eksplisit sama dengan khamar, seperti yang dilakukan oleh ibn Mandhur, tidak jauh dari hakikat kata al-itsm, seperti yang ditunjukkan oleh al-Qur'an. Seseorang yang meminum khamar dan bermain judi, misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan negatif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejumlah kata al-itsm yang muncul dalam al-Qur'an, terlihat bahwa kata al-ism digunakan untuk menyebut pelanggaran yang memiliki efek negatif dalam kehidupan seseorang dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-zanb dengan berbagai bentuk kata jadiannya disebut sebanyak 48 kali dalam al-Qur'an. Menurut Lewis Ma'luf, kata al-zanb berarti tabi'ahu falam yufarriq israh (menyertai dan tidak pernah berpisah). Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang, misalnya zanab al-hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu, menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm berarti masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami bahwa ungkapan al-zanb yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa, ditujukan kepada perbuatan-perbuatan yang mengandung nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti letak ekor binatang yang dekat dengan tempat keluarnya kotoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara 48 kata al-zanb yang muncul dalam al-Qur'an adalah terdapat dalam surat Ali Imran ayat 135. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang meminta ampun dari dosa (al-zanb), karena mengerjakan fahisyat, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Kata fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh min al-zunub (dosa yang paling jelek atau paling besar). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling jelek termasuk zina. Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-Maraghi, memang mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti zina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan lain yang dikatakan al-zanb oleh al-Qur'an adalah mengubur hidup-hidup anak perempuan, seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah. Tindakan mereka disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9. Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti diungkap dalam ayat itu termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal perikemanusiaan sama sekali. Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang telah meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan lain, diketegorikan dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb, seperti terdapat dalam surat al-Anfal ayat 54. Hal ini, menurut pandangan Allah, karena dosa mendustakan ayat-ayat Allah termasuk dosa paling besar. Dalam ajaran Islam, puncak ajaran agama adalah tauhid (mengesakan Allah). Oleh karena ajaran tauhid paling penting dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki anak, seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang berdosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak ayat yang mengadung kata al-zanb dalam al-Qur'an, dapat dipahami bahwa kata al-zanb digunakan untuk menyebut dosa terhadap Allah dan dosa terhadap sesama manusia. Kebanyakan kata al-zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum, sehingga tidak dapat diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar atau dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh kata al-zanb harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam konteks ayat yang memuat kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-khith'u juga termasuk salah satu kata yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti dosa. Bentuk kata kerja madli (kata kerja lampau) dari kata al-khith'u ialah khati'a. Penggunaan kata khathi'a fi dinih berarti salaka sabila khatha'in amidan aw ghaira amidin (mengikuti jalan yang salah, baik disengaja maupun tidak disengaja). Nampaknya, kata al-khith'u ini dianggap sama dengan kata al-zanb oleh Lewis Ma'luf. Namun, Lewis menambahkan pendapat lain bahwa al-khith'u khusus digunakan untuk mengungkap kesalahan yang tidak disengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Lewis, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-khith'u dengan arti melenceng dari arah yang sebenarnya. Pengertian melenceng seperti diungkap al-Asfahani ini, memiliki beberapa kemungkinan. Pertama, niat mengerjakan sesuatu yang salah, kemudian benar-benar dikerjakan. Kesalahan seperti ini dinamakan al-khith'u al-tamm (betul-betul salah). Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata lain, benar niatnya, tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan. Yang disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Kata al-khith'u dalam al-Qur'an, menurut perhitungan Muhammad Fu'ad Abd al-Baqi, muncul sebanyak 22 kali. Diantara kata al-khith'u yang muncul dalam al-Qur'an ialah dalam surat al-Isra' ayat 31. Kata al-khith'u dalam ayat ini dirangkai dengan kata kabiran (besar). Kata kabiran adalah sifat dari kata al-khith'u, sehingga rangkaian dua kata yang disebut terakhir ini berarti dosa besar. Dengan demikian, kata al-khith'u dalam ayat ini dapat diterjemahkan sebagai dosa besar jika dirangkai dengan kata kabiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak ayat al-Qur'an yang mengandung kata al-khith'u dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang cukup bervariasi, misalnya dosa terhadap Allah, dan dosa terhadap sesama manusia. Juga dapat dipahami bahwa al-Qur'an, ketika menggunakan kata al-khith'u atau al-khathiat, tidak menjelaskan secara tersurat, apakah dosa yang ditunjukkannya dosa besar atau dosa kecil. Untuk membedakan dosa yang ditunjukkannya, dibutuhkan petunjuk lain, seperti adanya kata kabiran dalam ayat 31 surat al-isyra' yang dikutip di depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disebut di depan, kata al-sayyi'at juga termasuk kata yang diterjemahkan dalam bahasa Indoenesia dengan arti dosa. Kata ini dengan segenap kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqi, muncul sebanyak 167 kali. Seorang pakar bahasa al-Qur'an, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-sayyi'at atau al-su' dengan kullu ma yaghummu al-insan min al-umur al-dunyawiyyat wa al-ukhrawiyyat wa min al-ahwal al-nafsiyyat wa al-badaniyyat wa al-kharijat min fawat malin wa jahin wa faqd hamim (segala sesuatu yang dapat menyusahkan manusia, baik masalah keduniaan maupun masalah keakhiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan meninggalnya orang-orang yang disayangi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kata al-sayyi'at yang muncul dalam al-Qur'an, semuanya merujuk kepada arti yang disebutkan al-Asfahani tersebut. Dalam al-Qur'an, surat Thaha ayat 22, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan Nabi Musa untuk memasukkan tangannya ke ketiaknya, niscaya tangan Nabi Musa akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad. Hal itu sebagai mu'jizat lain yang dimiliki Nabi Musa dari Tuhannya. Kata al-su', dalam ayat ini berarti penyakit, yaitu al-barash (belang), yang banyak menimpa tangan, penyakit yang selalu menyusahkan orang yang ditimpanya. Oleh karena itu, sangat tepat bila kata al-su' diartikan juga dengan al-huzn (susah). Sesuatu hal yang jelek juga dikatakan al-su', dan karena itu kata al-su' dalam hal ini dilawankan dengan al-husna (baik), dan al-sayyiat dilawankan dengan kata al-hasanat, seperti terdapat dalam surat al-Nisa' ayat 79. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an, perbuatan-perbuatan yang dikategorikan al-su antara lain: perzinaan (Surat al-Nisa' ayat 22), menjadikan syetan sebagai teman (surat al-Nisa' ayat 38), mengubur hidup-hidup anak perempuan seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah (surat al-Nisa' ayat 58-59). Dari sekian banyak kata al-su' atau al-sayyi'at yang muncul dalam al-Qur'an, kelihatannya tidak selalu mengacu kepada arti dosa besar (seperti yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah) atau dosa kecil. Terkadang kata al-su' digunakan untuk menyebut dosa besar, seperti zina (surat al-Isra' ayat 32), membunuh anak perempuan hidup-hidup (surat al-Nahl ayat 59), dan sebagainya. Terkadang juga kata al-su' ada yang mengacu kepada dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-Nisa' ayat 31. Disamping itu, ada lagi kata al-su' dalam al-Qur'an yang tidak jelas mengacu kepada dosa besar atau dosa kecil, seperti yang muncul dalam surat al-A'raf ayat 95, surat al-Ra'd ayat 6, surat Yunus ayat 28, surat al-Naml ayat 90, surat Ghafir ayat 40, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-hub, yang diterjemahkan dengan arti dosa, muncul dalam al-Qur'an sebanyak satu kali, yaitu dalam surat al-Nisa' ayat 2. Menurut al-Asfahani, kata al-hub sama dan sinonim dengan kata al-itsm. Oleh karena kata al-hub ini muncul hanya satu kali dalam al-Qur'an, tidak dapat diketahui berbagai makna yang timbul dari kata tersebut, apakah ia mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil, atau dosa secara umum. Khusus dalam surat al-Nisa' ayat 2 di atas, karena kata al-hub dirangkai dengan kata kabiran, maka rangkaian itu diterjemahkan dengan dosa besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kriteria Dosa Besar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah untuk menentukan kriteria dosa besar dalam al-Qur'an. Kesulitan itu tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan dosa telah dijelaskan sebelum ini. Diantara lima istilah tersebut, tidak satu pun yang secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan dosa besar. Bila al-Qur'an menyebut dosa besar, maka istilah-istilah tersebut dirangkai dengan kata kabir atau adim (dua kata yang berarti besar). Oleh karena itu, ditemukan rangkaian kata-kata: isman adiman, isman kabiran, zanban adiman, khith'an kabiran, atau huban kabiran, untuk merujuk dosa-dosa besar. Dengan demikian, jika ditemukan kata ism, zanb, khith' saja, maka tidak dihukumi sebagai dosa besar, tanpa melihat indikator lain yang dapat mengantarkan kita memahaminya sebagai dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita menjelaskan kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-dosa terbesar diantara dosa-dosa besar. Sedangkan dosa besar itu sendiri masih kabur. Setelah tidak jelas macam-macam dosa besar, menurut al-Qur'an dan Hadis, maka ijtihadlah yang harus difungsikan untuk mengetahui macam-macam dosa besar. Oleh karena dasar untuk mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif. Jika dampak negatif yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran dijadikan tolok ukur untuk mengetahui dosa besar, kesulitan yang ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga. Suatu pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang relatif cukup besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh orang lain. Dalam menyelesaikan problem ini, akan digunakan tolok ukur lain, yaitu istilah apa yang digunakan al-Qur'an ketika mengancam pelanggar suatu aturan. Tentu yang dianalisa adalah bahasa yang digunakan oleh al-Qur'an atau Hadis tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan tolok ukur kebahasaan itu, dosa besar menurut al-Baruzi, seperti dikutip al-Ghimari setidak-tidaknya ada lima belas kategori, yaitu dosa besar yang diancam dengan hukuman had, dosa besar yang ditandai dengan ungkapan "fahisyah", dosa besar karena pelanggaran yang dilakukan termasuk perbuatan syetan, dosa besar karena Allah tidak menyenangi tindakan itu termasuk pelakunya, dosa besar karena pelaku dosa diancam dengan laknat, dosa besar karena Allah marah terhadap pelakunya, dosa besar ditandai dengan ungkapan "shalat yang dikerjakan seseorang ditolak Allah", dosa besar karena pelakunya dikecam sebagai orang merugi, dosa besar ditandai dengan ungkapan "bukan dari golongan kami", dosa besar ditandai dengan ungkapan "Allah menutup pintu taubat bagi pelaku dosa", dosa besar ditandai dengan ungkapan "kemaksiatan menghabiskan kebaikan", dosa besar ditandai dengan ancaman wayl, dosa besar karena tindakan itu membatalkan amalan shaleh, dosa besar ditandai dengan ungkapan "Allah tidak menyenangi pelaku dosa", dan dosa besar ditandai dengan ungkapan "tidak perlu ditanyakan resiko yang akan diterima pelaku dosa". Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut, tidak dijelaskan semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan dari segi tempat yang disediakan, juga karena sebagian besar dari dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan dalam Hadis Rasulullah, bahkan ada yang termasuk dosa terbesar. Oleh karena itu hanya sebagian saja yang akan diuraikan di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Hukuman Had.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sejumlah ayat al-Qur'an yang mengancam sebuah pelanggaran dengan hukuman had, misalnya surat al-Baqarah ayat 178. Ayat ini membicarakan hukuman had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash. Secara eksplisit, memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa pembunuhan termasuk dosa besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang diancam dengan hukuman had disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis disebutkan bahwa dosa besar karena diancam hukuman had hanyalah zina, dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan tolok ukur ancaman had bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya: membunuh, zina, qazaf (tuduhan palsu), mencuri, pengacau di jalan, liwath (homo seksual) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata had berasal dari kata kerja hadda. Kalimat hadda Allah 'anna al-syarra, berarti kaffahu wa sharrafahu (menjauhkan atau memalingkan). Tegasnya, Allah menjauhkan kita dari bahaya. Ungkapan hadda al-muzniba berarti aqama 'alyhi al-had bima yamna'u ghairahu wa yamna'uhu min irtikab al-zanb (menerapkan hukuman had kepada seseorang yang berbuat dosa, agar dia jera dan agar orang lain yang mengetahui hukuman tersebut dapat juga jera). Kemudian muncullah istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman yang diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti pencurian dengan hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam, pembunuhan dengan hukuman qishash, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di jalan, dan liwath (homoseksual) dikategorikan dosa besar, bukan saja karena diancam dengan hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari tindakan- tindakan tersebut memang besar. Di sini, untuk menilai tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa besar, bukan saja acuan kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang ditimbulkannya. Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup besar, sebab pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh. Lebih dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping diancam dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang ditimbulkan zina cukup besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa orang tua sah dan hidup terlantar, cemoohan masyarakat dan masih banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan perzinaan. Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila dibandingkan dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam hal ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan tercemar, termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan dikucilkan dari masyarakat, dan akan mengalami penderitaan batin yang cukup hebat. Tidak mudah untuk memulihkan nama baiknya, dan kalaupun bisa, membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan mental yang cukup prima. Wajar bila penuduh palsu diancam dengan hukuman berat, yaitu dipukul delapan puluh kali (hukuman had), kesaksian mereka ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik. Demikian juga mencuri dan mengacau di jalan, termasuk yang diancam dengan hukuman had oleh al-Qur'an. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada pezina, pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup berat. Dengan melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika pelanggaran-pelanggaran yang diancam dengan hukuman had dikategorikan dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2.Dosa Besar Ditandai Ungkapan "Fahisyat'.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi tindakan pelanggaran. Diantara ayat yang menggunakan kata fahisyat untuk menunjuk suatu pelanggaran adalah ayat 15 surat al-Nisa'. Dalam ayat ini, Allah menetapkan bahwa para isteri yang dituduh mengerjakan perbuatan fahisyat, harus dibuktikan kebenarannya oleh empat orang saksi. Kata fahisyat berarti qabihat dan syani'at (jelek dan keji). Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan arti zina. Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam makna yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut. Dalam ayat disebut terakhir, dikatakan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan fahsya' (bentuk jamak dari fahisyat). Kata fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami dengan makna zina, karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk dapat memahaminya dengan arti zina. Demikian pula kata fahsya' dalam ayat 169 surat al-Baqarah, ayat 28 surat al-A'raf, ayat 24 surat Yusuf, ayat 22 surat al-Nisa' dan sebagainya, muncul dengan makna yang sangat umum. Kata-kata fahsya' atau fahisyat dalam konteks seperti ini tidak dapat dipahami dengan mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil. Namun pada saat tertentu, misalnya ada petunjuk yang tegas yang mengarah kepada arti dosa besar, kata fahisyat atau fahsya', dapat dijadikan dasar untuk menghukumi sebuah pelanggaran sebagai dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Dosa Besar Karena Pelakunya Diancam Dengan Laknat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa besar terkadang dapat diketahui dengan adanya ungkapan lain yang digunakan al-Qur'an atau Hadis, selain yang dikemukakan di atas, yaitu pelakunya diancam dengan laknat, misalnya dalam ayat 51-52 surat al-Nisa. Dalam ayat ini, Allah menyatakan melaknat orang-orang musyrik dan orang-orang yang percaya kepada Thaghut dan orang-orang yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih benar jalannya dari orang-orang beriman. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata "la'ana" yang, dari segi bahasa, berarti akhaza wa sabba (menyiksa dan mencaci) dan dapat juga berarti ab'adahu min al-khair (menjauhkan dari kebaikan). Lebih jauh lagi, kata la'ana berarti 'azzaba (menyiksa). Al-Maraghi mengartikan kata la'ana dengan ab'adahu min al-khayr. Dengan arti bahasa dan istilah dari kata la'ana seperti dikutip di atas, dapat dipahami bahwa kata la'ana mengakibatkan jauhnya seseorang dari kebaikan, atau tegasnya, jauhnya seseorang dari rahmat Allah. Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena tidak disenangi, dan dampak dari tidak disenangi orang antara lain tidak mendapatkan kebaikan orang lain. Orang tidak disenangi dalam ayat di atas ialah orang musyrik, dan kemusyrikan termasuk dalam akbar al-kabair (salah satu dosa terbesar diantara dosa-dosa besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tidak disenangi Allah, seperti tercantum dalam al-Qur'an cukup bervariasi, misalnya orang-orang kafir (Qs. al-Ahzab ayat 64). Bahkan golongan ini dinyatakan secara tegas akan dimasukkan ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala di akhirat nanti. Golongan yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah. Hati mereka pun enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau menerima ayat-ayat Allah. Bahkan lebih jauh lagi, mereka berani merubah ayat-ayat Allah (ayat al-Qur'an), seperti merubah arti dan mengurangi atau menambah huruf dan kata-kata dalam ayat al-Qur'an tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hadis Rasulullah pun terdapat kata la'ana, yaitu sabda Rasulullah: "la'ana Allah al-rasyi wa al-murtasyi" (Allah melaknat orang yang menyuap dan yang disuap). Beberapa kata la'ana yang muncul, baik dalam al-Qur'an maupun dalam Hadis memang mengacu kepada arti dosa besar. Apalagi pelanggaran-pelanggaran yang diungkap dengan kata la'ana, dampak negatifnya memang besar, sehingga tepat bila kata la'ana digunakan sebagai dasar untuk menghukumi pelanggaran yang ditunjuknya sebagai dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Dosa Besar Yang Ditandai Ungkapan "Kemaksiatan Dapat Merusak Kebaikan".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa besar dalam kategori ini tidak ditemukan dalam al-Qur'an, tetapi ditemukan dalam Hadis Rasulullah. Hadis tersebut berbunyi: "Iyyakum wa al-hasad fa inna al-hasad ya'kul al-hasanat kama ta'kul al-nar al-hathab" (Jauhilah sifat hasad (dengki), sebab dengki itu dapat memakan amalan baik, sebaimana halnya api membakar kayu). Dalam kamus Arab, kata hasad digunakan, misalnya dalam ungkapan "hasada fulan ni'matahu wa 'ala ni'matihi" yang berarti "tamanna zawala ni'matih wa tahawwulaha ilayhi" (Seseorang berharap hilangnya ni'mat yang didapat orang lain, dan dapat berpindah ke tangan dia). Hasad, kalau begitu, adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad dapat memakan amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api membakar kayu? Tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa alasan hasad dapat memakan amal-amal baik, adalah karena orang kalau sudah hasad, tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan Allah. Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan orang lain diusahakan pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad, kebaikan dan nikmat yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan, nikmat tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan api yang membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu. Lama kelamaan, arang dan debu pun akan hilang tanpa bekas. Gambaran hasad dapat menghilangkan kebaikan bersifat abstrak. Proses hilangnya kebaikan oleh sifat hasad tidak dapat dilihat. Oleh karena itu, dibutuhkan perumpamaan. Kemudian, Rasulullah mengambil perumpamaan: Hasad menghilangkan kebaikan sama dengan api membakar kayu. Dengan cara mempersamakan seperti ini, sesuatu yang awalnya bersifat abstrak berubah menjadi kongkrit. Ia menjadi seakan-akan dapat diihat, seperti halnya benda nyata. Seseorang yang telah hangus amal baiknya, berarti ia tidak memiliki peluang untuk memperoleh balasan kebaikan dari Allah. Sebaliknya, justeru balasan keburukan (neraka) yang akan diperolehnya. Bila demikian, dapat dipahami kalau sifat hasad dikategorikan sebagai dosa besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Wayl (Celaka). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang mengandung kata wayl (celaka), antara lain dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3. Kata wayl menurut kamus bahasa Arab berarti al-halak (kehancuran). Kata wayl dalam ayat 1 surat al-Muthaffifin tersebut, menurut al-Maraghi, merujuk kepada arti kehancuran yang besar. Kehancuran besar menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kehancuran besar dalam ayat ini ialah menimbang dengan timbangan yang besar ketika membeli dan menimbang dengan timbangan kecil ketika menjual. Tindakan ini jelas mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam perdagangan, tanpa memperhatikan kerugian dan penderitaan orang lain. Setidak-tidaknya, ada dua keuntungan yang diraih oleh orang yang melakukan penipuan seperti itu: Pertama, keuntungan dari selisih timbangan barang yang dibeli; Kedua, keuntungan dari selisih harga jual barang. Oleh karena itu, tindakan tersebut sangat menguntungkan diri sendiri dan sangat merugikan orang lain. Dengan demikian, adalah tepat bila al-Qur'an mengancam pelakunya dengan kata wayl, yang merujuk kepada besarnya dosa bagi pelaku tindakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Asfahani mengartikan kata wayl dengan al-qubh (jelek) atau al-tahassur (penyesalan). Pengertian wayl seperti yang dikemukakan al-Asfahani, secara etimologis, berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Lewis Ma'luf. Namun pada hakekatnya, dua pengertian itu memiliki makna yang sama, yaitu merujuk kepada arti kejelekan atau kejahatan yang besar, dan dampaknya menimbulkan kehancuran yang besar pula. Pendusta lagi banyak berbuat dosa, sebagai dikatakan dalam al-Qur'an surat al-Hujurat ayat 7, tepat diancam dengan wayl. Kedustaan sudah cukup membahayakan, apalagi ditambah dengan kesenangan melakukan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6. Dosa Besar Ditandai Ungkapan"Allah Tidak Suka Melihat Pelaku Dosa".&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa besar dalam kategori ini ditandai ungkapan "la yandhuru" (tidak melihat). Kata nadhara, bentuk kata kerja lampau dari kata kerja yandhuru, dalam al-Qur'an ditemukan lebih seratus kali dengan berbagai bentuk kata jadiannya. Seperti dikatakan di atas, kata la yandhuru, yang berarti tidak melihat, bukan saja berarti tidak melihat karena tidak bertemu atau tidak menemukan, akan tetapi ungkapan itu memiliki arti tertentu, yaitu tidak ingin melihat karena merasa tidak senang dengan sesuatu. Dalam al-Qur'an, tidak ditemukan ungkapan la yandhuru, dalam arti seperti disebut terakhir. Ungkapan la yandhuru dalam arti tersebut terakhir hanya ditemukan dalam Hadis, misalnya "la yandhuru Allah 'azza wa jalla ila al-rajuli ata rajulan aw imrataan fi duburiha" (Allah tidak senang melihat seseorang yang menyetubuhi sesama lelaki (homoseksual) dan bersetubuh dengan perempuan melalui duburnya (sodomi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan la yandhuru (tidak mau melihat) seperti dalam Hadis di atas, disebabkan ketidaksenangan kepada sesuatu. Ketidaksenangan boleh jadi menjurus kepada tidak mau melihat yang tidak disenangi itu, sebab pada umumnya orang yang tidak senang kepada sesuatu atau kepada seseorang, boleh jadi ia tidak mau melihat sesuatu atau seseorang yang dibencinya. Dalam Hadis lain dikatakan: Salasatun la yukallimuhum Allah yawm al-qiyamat wa la yuzakkihim wa la yandhuru ilayhim wa lahum 'azabun alim: syaikhun zanin, wa malikun kazzab, wa 'ailun mustakbirun (ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah di hari qiyamat, tidak dibersihkan hatinya, dan akan disiksa dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja pendusta, dan orang miskin yang sombong).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata la yukallimuhum Allah (mereka tidak diajak bicara oleh Allah), bukan karena Allah tidak bertemu dengan orang itu, akan tetapi ungkapan itu memiliki makna kiasan, yaitu kiasan bahwa Allah tidak senang kepada mereka. Bahkan, ketidaksenangan Allah itu ditegaskan lagi dengan kata berikutnya wa la yandhuru ilayhim (Allah tidak mau melihat mereka). Mengapa Allah tidak senang kepada mereka ? Tentu saja karena perilaku mereka sudah melampaui batas. Orang tua yang berzina, dianggap melampaui batas, sebab orang tua seharusnya memberi contoh yang baik kepada anak cucu. Raja yang berdusta juga sangat dibenci Allah, sebab raja seharusnya jujur dalam menjalankan pemerintahan, bukan malah mengelabui rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian yang telah dipaparkan sebelum ini, dapat dipahami bahwa al-Qur'an tidak menyebut secara tegas macam-macam dosa besar. Dalam al-Qur'an hanya terdapat ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan kita untuk dapat menghukumi sebuah pelanggaran itu sebagai sebuah dosa besar. Dengan meresapi sejumlah istilah atau ungkapan yang menjadi tanda untuk memahami dosa besar, sebagaimana yang dikemukakan al-Baruzi, maka akan muncul puluhan macam dosa besar. Dosa-dosa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah hanyalah sebagian dari dosa-dosa besar yang terdapat dalam ajaran Islam. Untuk mengetahui secara rinci macam-macam dosa besar, kita hanya merujuk saja kepada ungkapan-ungkapan tersebut, baik yang terdapat dalam al-Qur'an maupun Hadis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penulis adalah dosen tetap pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel&lt;br /&gt;Tamat S-3 dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-1395153082172725415?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/1395153082172725415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/kriteria-dosa-besar-menurut-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1395153082172725415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1395153082172725415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/kriteria-dosa-besar-menurut-al-quran.html' title='KRITERIA DOSA BESAR MENURUT Al-QUR&apos;AN DAN HADIS'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-8033411683797861738</id><published>2009-07-20T07:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T07:53:14.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hadits shahih'/><title type='text'>Hadits Shahih Al Bukhari</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengambil Kembali Hadiah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diriwayatkan dari Ibn Abbas ra. : "orang yang mengambil kembali hadiah yang telah diberikannya, adalah seperti anjing yang menjilat kembali air liurnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nabi Muhammad Tidak Menyembunyikan Sebagian Wahyu &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diriwayatkan dari Aisyah ra. : siapapun yang berkata bahwa Muhammad Saw menyembunyikan sebagian yang telah diwahyukan kepadanya, maka ia adalah orang yang berdusta. karena Allah berfirman : wahai Rasul ! sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu &lt;em&gt;(QS Al Ma'idah [5]:67). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yang Memberitahukan Perihal Jin Yang Mendengarkan Al Quran &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud ra. : bahwa ia ditanya seseorang, "siapa yang memberitahu Nabi Saw perihal sekelompok jin yang mendengarkan pembacaan Al Quran?" dia berkata bahwa yang memberitahu Nabi Saw adalah sebatang pohon.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-8033411683797861738?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/8033411683797861738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/hadits-shahih-al-bukhari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/8033411683797861738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/8033411683797861738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/hadits-shahih-al-bukhari.html' title='Hadits Shahih Al Bukhari'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-1603687157397885490</id><published>2009-07-20T07:46:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T07:49:36.644-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='shalat khusyuk'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tips'/><title type='text'>Artikel Republika : Makna Shalat Khusyuk</title><content type='html'>(ika ) Mengapa banyak orang yang rajin shalat masih tetap korupsi? Mengapa banyak orang yang gemar shalat masih suka melakukan kemaksiatan? Mengapa banyak orang yang terbiasa shalat tapi sakit-sakitan? Bila hal itu ditanyakan kepada Ustadz Ansufri Idrus Sambo, niscaya ia akan menjawab, ”Sebab shalat orang itu belum khusyuk.” Menurut lelaki kelahiran Medan, Sumatera Utara, 20 November 1970, kekhusyukan dalam shalat merupakan kunci agar shalat itu benar-benar membekas seperti penegasan Allah dalam Alquran, ”Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa banyak orang yang belum khusyuk shalatnya? Hal itu, kata alumnus Jurusan Matematika, FMIPA Institut Pertanian Bogor itu, karena mereka belum memahami tatacara shalat yang khusyuk. ”Betapa banyak orang yang setiap hari mengerjakan shalat, namun mereka tidak mengetahui cara mencapai shalat yang khusyu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu pun pernah dialami oleh lelaki yang pernah nyantri di Pesantren Ulul Albab, Bogor itu. Bertahun-tahun ia mencoba memahami arti khusyuk dan mencari cara untuk menggapai shalat yang khusyu’. Namun ia tidak juga menemukannya. ”Saya bertanya kepada banyak ustadz. Namun jawaban yang saya peroleh tidak memuaskan saya. Karena itu saya terus mencarinya,” papar ayah empat anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang akrab dipanggil Ustadz Sambo itu melakukan berbagai cara untuk mencari dan menemukan makna khusyu’ dalam shalat. Selain bertanya kepada para ustadz, ia pun rajin membaca berbagai macam buku. Cara lainnya yang rutin ia lakukan adalah melakukan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan. Ia melakukannya di Masjid Ulul Albab, setiap tahun sejak tahun 1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tahun 1999 ia berkesempatan menunaikan umrah Ramadhan, maka ia pun memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan i’tikaf. ”Setelah mencari selama 13 tahun, Alhamdulillah, akhirnya pada tahun 2005, sewaktu iktikaf Ramadhan, saya menemukan makna dan cara menggapai khusyuk dalam shalat,” kata lelaki yang pernah belajar Ilmu Bahasa Arab dan Ilmu Tafsir selama satu tahun di Jordan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, kata lelaki yang tengah menyelesaikan program magister di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, khusyuk itu terlalu abstrak, padahal sebetulnya tidak. Nabi sewaktu jadi imam, mendengar anak menangis. Lain waktu, ia shalat sambil menggendong cucunya. ”Khusyuk itu adalah kenikmatan berdialog dengan Tuhan. Jadi, bukan berarti tidak ingat apa-apa, tapi hal-hal lain kalah dengan nikmat dialog itu,” tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambo lalu memberikan rahasia singkat cara mencapai shalat khusyuk. Misalnya, tidak terburu-buru, tidak dalam keadaan perut lapar, tidak menahan buang angin ataupun buang air kecil, mengenakan pakaian terbaik, matikan ponsel, serta memahami bacaan shalat. Selain itu, bacaan shalat hendaknya perlahan-lahan, jangan terburu-buru. ”Lakukanlah shalat dengan bacaan yang menghiba, memelas, merintih kepada Allah. Sebab, Nabi mengatakan, ‘Allah senang mendengarkan hamba-Nya merintih’,” papar Sambo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat ditunaikan dengan sebaik-baiknya, maka shalat itu harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni meninggalkan maksiat. ”Inilah salah satu hikmah terpenting shalat,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesibukannya sebagai juru dakwah, ustadz yang hobi bulutangkis itu telah memformulasikan langkah praktis yang teruji untuk mencapai kekhusyukan dalam melaksanakan shalat, yang dikenal luas dengan nama Manajemen Sholat menuju Khusyu’ dan Nikmat (MSKN). ”Insya Allah formula ini apabila diamalkan dengan benar dapat membangkitkan kesehatan dan kekuatan diri, dan pada akhirnya dapat memperoleh kesuksesan hidup dunia dan akhirat,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah memberikan pelatihan manajemen shalat khusyuk kepada ribuan orang. Baik karyawan perusahaan-perusahaan besar maupun jamaah majelis ta’lim. ”Kami tengah menyiapkan acara gerakan nasional shalat untuk menyelamatkan bangsa, yang insya Allah akan digelar pada Mei 2007,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memadukan logika matematika dan pemahaman terhadap dalil (Alquran dan hadis), Sambo mengembangkan berbagai program yang sampai sekarang terus digelutinya. Ia misalnya, membuat model pemberdayaan masyarakat miskin secara terpadu melalui Yayasan HILAL yang dipimpinnya. Selain itu juga mengembangkan metode yang disebutnya “Buraq”, sebuah cara praktis untuk menterjemahkan Alquran secara mudah sistem 16 jam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Sambo berencana membuat Pesantren Imam Masjid. ”Saya berharap pesantren tersebut akan menghasilkan imam-imam masjid yang benar pemahaman agamanya dan khusyuk dalam shalatnya,” ujarnya. Semoga terlaksana dan barokah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ir Ansufri Idrus Sambo Tempat tanggal lahir: Medan, 20 November 1970&lt;br /&gt;Pendidikan: Jurusan Matematika, Fakultas MIPA, IPB&lt;br /&gt;Istri: Rani Sinta Kusumawangi&lt;br /&gt;Jumlah anak: empat orang&lt;br /&gt;Jabatan: Pimpinan Yayasan Hilal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://manajemensholat.com"&gt;http://manajemensholat.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-1603687157397885490?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/1603687157397885490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/artikel-republika-makna-shalat-khusyuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1603687157397885490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1603687157397885490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/artikel-republika-makna-shalat-khusyuk.html' title='Artikel Republika : Makna Shalat Khusyuk'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2599726673742545232.post-1717960817136123386</id><published>2009-07-20T04:57:00.000-07:00</published><updated>2009-07-20T05:14:49.411-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Allah'/><title type='text'>Mengenal ALLAH</title><content type='html'>Dalam kitab dikatakan, awaluddin makrifatullah (awal-awal agama ialah mengenal ALLAH). Apabila seseorang itu tidak mengenal ALLAH, segala amal baktinya tidak akan sampai kepada ALLAH SWT. Sedangkan, segala perintah suruh yang kita buat, baik yang berbentuk fardhu maupun sunat, dan segala perintah larang yang kita jauhi, baik yang berbentuk haram maupun makruh, merupakan persembahan yang hendak kita berikan kepada ALLAH SWT. &lt;br /&gt;Kalau kita tidak kenal ALLAH SWT, maka segala persembahan itu tidak akan sampai kepada-Nya. Ini berarti, sia-sialah segala amalan yang kita perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang itu sudah kenal ALLAH, barulah apabila dia berpuasa, puasanya sampai kepada ALLAH. Apabila dia sholat, sholatnya sampai kepada ALLAH. Apabila dia berzakat, zakatnya sampai kepada ALLAH. Apabila dia menunaikan haji, hajinya sampai kepada ALLAH SWT. Apabila dia berjuang, berjihad, bersedekah dan berkorban, serta membuat segala amal bakti, semuanya akan sampai kepada ALLAH SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerana itulah, makrifatullah (mengenal ALLAH) ini amat penting bagi kita. Jika kita tidak kenal ALLAH, kita bimbang segala amal ibadah kita tidak akan sampai kepada-Nya, ia menjadi sia-sia belaka. Boleh jadi kita malah hanya akan tertipu oleh syaitan saja. Kita mengira amalan yang kita perbuat sudah kita persembahkan pada ALLAH, padahal itu adalah jebakan syaitan. Ini karena kita tidak mengenal ALLAH, sehingga kita tidak mampu membedakan ilah (tuhan) yang kita ikuti, apakah itu ALLAH, atau syaitan yang menipu daya. &lt;br /&gt;Sebab itulah mengenal ALLAH itu hukumnya fardhu 'ain bagi tiap-tiap mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal ALLAH dapat kita lakukan dengan cara memahami sifat-sifat-Nya. Kita tidak dapat mengenal ALLAH melalui zat-Nya, karena membayangkan zat ALLAH itu adalah suatu perkara yang sudah di luar batas kesanggupan akal kita sebagai makhluk ALLAH. Kita hanya dapat mengenal ALLAH melalui sifat-sifat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami sifat-sifat ALLAH itu, kita memerlukan dalil aqli dan dalil naqli. &lt;br /&gt;Dalil aqli adalah dalil yang bersumber dari akal (aqli dalam bahasa Arab = akal). &lt;br /&gt;Dalil naqli adalah dalil yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. &lt;br /&gt;Melalui dalil aqli dan dalil naqli ini sajalah kita dapat mengenal ALLAH. Tanpa dalil-dalil itu, kita tidak dapat mengetahui sifat-sifat ALLAH, dan kalau kita tidak mengetahui sifat-sifat ALLAH, berarti kita pun tidak mengenal ALLAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sifat-sifat ALLAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sifat-sifat Wajib&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Sifat kesempurnaan yang pasti dimiliki oleh ALLAH SWT, jumlahnya 20. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sifat-sifat Mustahil &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang mustahil dimiliki ALLAH SWT, jumlahnya juga 20. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sifat Jaiz / Mubah &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang bebas bagi ALLAH, jumlahnya hanya satu, yaitu ALLAH SWT berkehendak sesuatu atau tidak berkehendak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://islam.elvini.net"&gt;http://islam.elvini.net&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2599726673742545232-1717960817136123386?l=suci-lagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://suci-lagi.blogspot.com/feeds/1717960817136123386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/mengenal-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1717960817136123386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2599726673742545232/posts/default/1717960817136123386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://suci-lagi.blogspot.com/2009/07/mengenal-allah.html' title='Mengenal ALLAH'/><author><name>Handi Yan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11932305769589304720</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='22' src='http://2.bp.blogspot.com/_znjqNGqod8Q/S46Fd4MqiCI/AAAAAAAAAbY/l8CnTH8l2-U/S220/n1072635463_2969.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
